Rabu, 18 Januari 2012

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka

Mantasyabbaha biqoumin Fahuwa Minhum

= Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka =

Oleh:
Dr.Nashir Bin Abdul Karim Al-Aql



MUKADIMAH


Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kami memuji, memohon
pertolongan, memohon ampunan, serta bertaubat. Kami berlindung kepada-Nya
dari keburukan diri kami dan dari kesalahan amal perbuatan kami. Barangsiapa
yang diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan. Barangsiapa
yang disesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Kami bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya.
Dialah (Allah) yang telah berfirman dalam Kitab-Nya yang agung: “Tidak akan rela
orang-orang Yahudi dan Nasrani kepadamu hingga kamu mengikuti millah (agama)
mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang
bersabda: “Dan pasti kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian setapak
demi setapak dan sejengkal demi sejengkal, hingga kalaupun mereka masuk ke
lubang biawak kalian pasti akan mengikutinya.” Kami (para sahabat, ed.) bertanya:
“Ya Rasulullah, jejak orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa
lagi kalau bukan mereka.” 1

Juga, Rasulullah


pun bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu
kaum maka ia termasuk golongan mereka.” 2
Amma ba’du.

Wahai Saudara-saudaraku yang mulia, sesungguhnya masalah tasyabbuh
terhadap orang-orang kafir ini merupakan topik yang sangat penting. Islam
menjadikan masalah ini termasuk dalam hal yang sangat diperhitungkan.

Nabi


telah menunaikan amanahnya. Beliau telah menyampaikan risalah
dan telah menasihatinya. Beliau juga telah memperingatkan dalam beberapa
hadits yang berkenaan dengan tasyabbuh terhadap orang-orang kafir, baik secara
global maupun secara detil.
Tetapi, di sisi lain sebagian umatnya justru telah terjerumus ke dalam
jurang tasyabbuh, walaupun berbeda tingkat dan derajat tasyabbuhnya, sesuai
dengan kadar kerusakan yang terjadi pada umat dari zaman ke zaman. Oleh

1 Diriwayatkan dalam Shahihain; Fathul Bari juz XIII hal. 300 dan Muslim hadits no. 2669.
2 Diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya juz II hal. 50, dan Abu Dawud dengan sanad jayyid hadits no.
4031, dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 6025.



karena itu tidaklah salah kalau kami katakan bahwa kadar tasyabbuh yang
menimpa umat Islam di zaman kini telah mencapai tingkat yang paling kronis
dibanding keadaan yang telah menimpa pada umat-umat terdahulu.

Bila kami perhatikan, nampak sekali bahwa masalah tasyabbuh ini kurang
mendapat perhatian dari banyak kalangan termasuk juga dari kalangan para
ulama. Di samping itu, kami melihat bila permasalahan ini diangkat ke hadapan
kaum muslimin merupakan masalah yang tetap relevan dan sangat diperlukan.

Kita akan meninjau masalah ini dari beberapa segi saja mengingat
kompleksnya masalah ini. Dan, yang terpenting bagi kita adalah memahami halhal
yang bersifat ushul (prinsip) dan beberapa kaidah mendasar yang harus
dipahami oleh setiap muslim. Tentunya agar mereka terhindar jangan sampai
terjatuh ke dalam lubang perangkap tasyabbuh terhadap orang-orang kafir, baik
dalam bidang aqidah, ibadah, adat dan kebudayaan, atau dalam pola perilaku
lainnya. Dan kami akan berusaha menyajikan masalah ini secara ringkas
mengingat keterbatasan waktu.3

3 Naskah ini aslinya adalah bahan muhadlarah (ceramah) yang disampaikan di masjid An-Na’im, Riyadh. Tetapi
kemudian ada yang memohon supaya dibukukan. Maka kami kabulkan permintaan tersebut setelah
membubuhkan beberapa catatan kaki dan sedikit keterangan.




BAB I
PENGERTIAN TASYABBUH


At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti
meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih
berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan
artinya serupa dengannya, meiru dan mengikutinya.

Tasyabbuh yang dilarang dalam Al-Quran dan As-Sunnah secara syar’i
adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik
dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang
menunjukkan ciri khas mereka (kaum kafir, ed.).

Termasuk dalam tasyabbuh yaitu meniru terhadap orang-orang yang tidak
shalih, walaupun mereka itu dari kalangan kaum muslimin, seperti orang-orang
fasik, orang-orang awam dan jahil, atau orang-orang Arab (badui) yang tidak
sempurna diennya (keislamannya), seperti yang akan kami terangkan nanti,
insyaallah.

Oleh karena itu, secara global kita katakan bahwa segala sesuatu yang tidak
termasuk ciri khusus orang-orang kafir, baik aqidahnya, adat-istiadatnya,
peribadatannya, dan hal itu tidak bertentangan dengan nash-nash serta prinsipprinsip
syari’at, atau tidak dikhawatirkan akan membawa kepada kerusakan,
maka tidak termasuk tasyabbuh. Inilah pengertian secara global.




BAB II


MENGAPA TASYABBUH TERHADAP ORANG-ORANG KAFIR
DILARANG


Yang pertama kali harus kita pahami seperti dinyatakan dalam beberapa
ketentuan Islam, bahwa dien (Islam) dibangun di atas pondasi yang dinamakan at


.
taslim, yakni penyerahan diri secara totalitas kepada Allah dan Rasul-Nya

Sedangkan at-taslim sendiri bermakna membenarkan seluruh yang
diberitahukan Allah Ta’ala tunduk kepada perintah-perintah-Nya serta menjauhi
larangan-larangan-Nya. Kemudian membenarkan apa-apa yang disampaikan

Rasul-Nya


tunduk kepada perintah beliau, menjauhi larangannya dan
mengikuti semua petunjuk-petunjuk beliau.
Jika kita sudah memahami kaidah-kaidah di atas, maka hendaklah seorang
muslim untuk:

.
1. Bertaslim terhadap apa-apa yang dibawa Rasulullah
2. Merealisasikannya dalam setiap amal perbuatan. Dan ajaran yang beliau bawa
di antaranya larangan untuk bertasyabbuh terhadap orang-orang kafir.
3. Setelah bertaslim, merasa tenang dengannya dan percaya penuh dengan yang
dikabarkan Allah. Iman dengan segala yang disyari’atkan-Nya dan mewujudkan
dalam perbuatannya, maka tidak dilarang baginya untuk mencari dalam sebab
dan musababnya (mempertanyakan mengapa semua itu diharuskan kepada
manusia, ed). Oleh karena itu kita dapat mengatakan, bahwa faktor yang
menyebabkan kita dilarang bertasyabbuh dengan orang-orang kafir banyak
sekali sebagian besar dapat diterima oleh akal sehat dan fitrah yang suci.
Adapun penyebab timbulnya larangan tersebut, diantaranya:

1. Semua
perbuatan orang kafir pada dasarnya dibangun di atas pondasi
kesesatan dlalalah dan kerusakan fasad. Inilah sebenarnya titik tolak semua
perbuatan dan amalan orang-orang kafir, baik yang bersifat menakjubkan anda
atau tidak, baik yang dzahir (nampak nyata) kerusakannya ataupun
terselubung. Karena sesungguhnya yang menjadi dasar semua aktivitas orang-
orang kafir adalah dlalal (sesat), inhiraf (menyeleweng dari kebenaran), dan


fasad (rusak). Baik dalam aqidah, adat-istiadat, ibadah, perayaan-perayaan
hari besar, ataupun dalam pola tingkah lakunya. Adapun kebaikan yang
mereka perbuat hanyalah merupakan suatu pengecualian saja. Oleh karena itu
jika ditemukan pada mereka perbuatan-perbuatan baik, maka di sisi Allah
tidak memberi arti apapun baginya dan tidak diberi pahala sedikitpun.
Sebagaimana firman Allah: “Dan Kami hadapi amal yang mereka kerjakan
kemudian Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-
Furqan: 23)

2. Dengan bertasyabbuh terhadap orang kafir, maka seorang muslim akan
menjadi pengikut mereka. Yang berarti dia telah menentang atau memusuhi
Allah swt. dan Rasul-Nya . Dan dia akan mengikuti jalur orang-orang yang
tidak beriman. Padahal dalam perkara ini terdapat peringatan yang sangat
keras sekali, sebagaimana Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang menentang
Rasul sesuadah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalannya orang-
orang yang tidak beriman, Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni
menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir, pen.) kemudian Kami
seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. An-Nisa’: 115)

3. Hubungan antara sang peniru dengan yang ditiru seperti yang terjadi antara
sang pengikut dengan yang diikuti yakni penyerupaan bentuk yang disertai
kecenderungan hati, keinginan untuk menolong serta menyetujui semua
perkataan dan perbuatannya. Dan sikap itulah yang menjadi bagian dari
unsur-unsur keimanan, di mana seorang muslim tidak diharapkan untuk
terjerumus ke dalamnya.
4. Sebagian besar tasyabbuh mewariskan rasa kagum dan mengokohkan orang-
orang kafir. Dari sana timbullah rasa kagum pada agama, kebudayaan, pola
tingkah laku, perangai, semua kebejatan dan kerusakan yang mereka miliki.
Kekagumannya kepada orang kafir tersebut akan berdampak penghinaan
kepada As-Sunnah, melecehkan kebenaran serta petunjuk yang dibawa
Rasulullah


dan para salafush shalih. Karena barangsiapa yang menyerupai
suatu kaum pasti sepakat dengan fikrah (pemikiran) mereka dan ridla dengan
semua aktivitasnya. Inilah bentuk kekaguman terhadap mereka. Sebaliknya, ia



tidak akan merasa kagum terhadap semua hal yang bertentangan dengan apa
yang dikagumi tersebut.

5.
Musyabbahah (meniru-niru) itu mewariskan mawaddah (kasih sayang),
mahabbah (kecintaan), dan mawalah (loyalitas) terhadap orang-orang yang
ditiru tesebut. Karena bagi seorang muslim jika meniru dan mengikuti orang-
orang kafir, tidak bisa tidak, dalam hatinya ada rasa ilfah (akrab dan
bersahabat) dengan mereka. Dan rasa akrab dan bersahabat ini akan tumbuh
menjadi mahabbah (cinta), ridla serta bersahabat kepada orang-orang yang
tidak beriman. Dan akibatnya dia akan menjauh dari orang-orang yang shalih,
orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang mengamalkan As-Sunnah, dan
orang-orang yang lurus dalam berislam. Hal tersebut merupakan suatu hal
yang naluriah, manusiawi dan dapat diterima oleh setiap orang yang berakal
sehat. Khususnya jika muqallid (si pengikut) merasa sedang terkucil atau
sedang mengalami kegoncangan jiwa. Pada saat yang demikian itu apabila ia
mengikuti yang lainnya, maka ia akan merasa bahwa yang diikutinya agung,
akrab bersahabat, dan terasa menyatu dengannya. Kalau tidak, maka
keserupaan lahiriah saja sudah cukup baginya. Keserupaan lahiriah ini
direfleksikan ke dalam bentuk kebudayaan dan tingkah laku. Dan tidak bisa
tidak, kelak akan berubah menjadi penyerupaan batin. Hal ini merupakan
proses yang wajar dan dapat diterima oleh setiap orang yang mau mengamati
permasalahan ini dalam pola tingkah laku manusia (human being). Kami akan
memberikan contoh yang menggambarkan adanya keserupaan, kecintaan, dan
keakraban antara orang-orang yang senasib. Kalau seseorang bepergian ke
negeri lain maka ia akan menjadi orang asing di sana. Jika dia bertemu dengan
seseorang yang berpakaian sama dengan pakaiannya, kemudian berbicara
dengan bahasa yang sama pula pasti akan timbul mawaddah (cinta) dan ilfah
(rasa akrab bersahabat) lebih banyak dibanding kalau di negeri sendiri. Jadi
apabila seseorang merasa serupa dengan lainnya, maka rasa persamaan ini
akan membekas di dalam hatinya. Ini dalam masalah yang biasa. Lalu
bagaimana jika seorang muslim menyerupakan diri dengan orang-orang kafir
karena kagum kepada mereka? Dan memang inilah yang kini banyak terjadi.
Suatu hal yang tidak mungkin, seorang muslim bertaklid dan menokohkan

orang kafir kalau tidak berawal dari rasa kagum, kemudian disusul dengan
keinginan untuk mengikuti, mencontoh, dan akhiranya menumbuhkan rasa
cinta yang mendalam yang disertai dengan sikap loyalitas yang tinggi. Hal itu
bisa dilihat pada masa sekarang di mana banyak muslim yang bergaya hidup
kebarat-baratan.

6. Bertasyabbuh terhadap orang-orang kafir pada dasarnya akan menjerumuskan
kepada kehinaan, kelemahan, kekerdilan (rendah diri), dan kekalahan. Oleh
karena itu sikap bertasyabbuh dilarang keras. Demikianlah yang terjadi pada
sebagian besar orang-orang yang mengikuti orang-orang kafir sekarang ini.


BAB III
BEBERAPA KAIDAH


Yang harus dipahami dari kaidah dasar yang dijadikan tolok ukur
tasyabbuh adalah sebagai berikut:
Kaidah Pertama:

Rasulullah


memberitakan kepada kita dengan kabar yang pasti benar
dan tidak mungkin keliru, bahwa sebagian umat ini pasti akan mengikuti jejak
orang-orang terdahulu dari umat lain. Hadits mengenai hal ini merupakan hadits
shahih, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab Shahih dan kitab-kitab Sunan. Di
antaranya sabda beliau


yaitu: “Umat ini pasti akan mengikuti jejak umat-umat
sebelumnya, setapak demi setapak, sejengkal demi sejengkal.” 4
Dan, hadits-hadits lain hingga sampai derajat jazm (pasti), yang menyatakan
bahwa sebagian umat ini pasti akan terjerumus ke arah langkah-langkah orang-
orang kafir. As-Sunan (jalan atau jejak) yang dikabarkan Nabi


seperti kata para
ahli ilmu, meliputi aqidah, ibadah, hukum, adat kebudayaan, tingkah laku, dan
hari-hari besar atau perayaan-perayaan.
Yang dimaksud dengan umat-umat sebelumnya, dari beberapa keterangan
hadits-hadits lain dari Nabi , secara singkat dinyatakan, bahwa mereka itu
adalah bangsa Persi dan Romawi. Ada pula yang menyatakan bahwa mereka itu
adalah dari kalangan Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani. Juga, ada yang menyatakan
bahwa mereka adalah orang-orang kafir secara mutlak. Bahkan, ada yang
menafsiri bahwa mereka adalah orang-orang musyrik. Nash-Nash tersebut saling
mendukung antara satu dengan lainnya.

Merupakan suatu kepastian bahwa umat ini akan mengikuti jejak orang-
orang kafir. Dan dapat dipastikan pula, bahwa yang mereka ikuti dan tiru dari
orang-orang kafir salah satunya dalam bentuk firqah-firqah. Sebab, Nabi
menyatakan, bahwa akan tetap tinggal sebagian umat ini yang tetap berpegang
pada kebenaran dan memperjuangkannya. Mereka itu adalah golongan yang


4 Keterangan hadits ini telah dicantumkan di muka dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim).



berhak mendapat pertolongan, yang menerangkan kebenaran dengan terangterangan,
yang menyuruh kepada yang ma’ruf, yang melarang kemaksiatan dan
kemungkaran, yang tidak pernah merasa terhalangi oleh orang-orang yang
mencela dan memusuhinya hingga hari kiamat. Merekalah yang dinamakan Al-
Firqatu An-Najiyah (golongan yang selamat). Dan sebagian dari tanda-tanda
keselamatannya yaitu keadaan mereka yang selalu berpegang pada kebenaran,
tidak terjatuh dalam jurang tasyabbuh dengan orang-orang kafir.

Berdasarkan hal ini maka sabda Nabi


yang menyatakan bahwa ada
sebagian umatnya yang mengikuti jejak umat-umat terdahulu yang telah
dibinasakan, tidak lain bahwa mereka itu adalah ahlu iftiraq (kelompok sempalan,
ed.) yang memisahkan diri dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah.5
Kaidah Kedua

Nabi


ketika memberi tahu kepada kita bahwa sebagian umat ini akan
terjatuh dalam perangkap tasyabbuh atau mengikuti jejak orang-orang kafir, maka
sesungguhnya beliau telah mengingatkan tentang perkara ini denga peringatan
yang sangat keras.
Pertama, pemberitahuan beliau mengenai hal ini mengandung peringatan.
Kedua, yang dimaksud Nabi


adalah memperingatkan agar jangan sampai
bertasyabbuh dengan orang-orang kafir, baik secara global maupun secara detil.
Adapun secara global, seperti sabda beliau : “Barangsiapa yang
menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” 6
dan seperti hadits yang telah lalu: “Sungguh kalian pasti akan mengikuti jejak
umat-umat sebelummu.” 7

Hadits-hadits tersebut bernada peringatan dan pemberitahuan terjatuhnya
umat ke dalam tasyabbuh. Demikian juga yang termaktub dalam hadits-hadits
lain, bahwa Nabi


pernah bersabda: “Selisihilah orang-orang musyrik.” 8. Dan

5 Ahlu iftiraq yang berkembang dewasa ini di antaranya Syiah, Ingkarus sunnah, Lembaga Kerasulan, Islam
Jama’ah, Ahmadiyah Qadyan, Aliran Isa Bugis, ed.
6 Hadits shahih, opc.
7 Hadits shahih, opc.
8 HR. Bukhari, Fathul Bari hadits no. 5893, dan Muslim hadits no. 259.





sabdanya: “Selisihilah orang-orang Yahudi.” 9. Dan sabdanya: “Selisihilah orang-
orang Majusi.” 10

Semuanya merupakan nash-nash yang bersifat umum dan global. Adapun
yang secara terperinci akan kami terangkan, insyaallah, pada BAB VIII sebagai
contoh praktis terhadap topik ini.
Kaidah Ketiga

Maklumat beliau


bahwa sebagian umat beliau ada yang tetap berpegang
teguh pada kebenaran, tidak akan mampu dibendung oleh orang-orang yang suka
mencelanya dan tidak pula oleh orang-orang yang memusuhinya hingga hari
kiamat.
Kaidah-kaidah ini tidak mungkin dipisahkan antara yang satu dengan
lainnya kalau kita ingin melihat masalah tasyabbuh ini. Karena kalau kita
memisahkan nash yang satu dengan nash lainnya, maka sebagian manusia akan
menyangka bahwa seluruh muslimin akan terjatuh dalam tasyabbuh. Hal ini tidak
mungkin sama sekali, mengingat akan bertentangan dengan apa yang telah

dinyatakan Rasulullah


bahwa sebagian umatnya ada yang tetap berpegang
teguh pada kebenaran dan memperjuangkannya. Demikian juga kalau kita hanya
mengambil hadits yang satu, --yakni hadits adanya golongan yang tetap berpegang
teguh pada kebenaran dan memperjuangkannya--, dan tidak mengambil hadits
pertama, yakni hadits bahwa umat ini akan mengikuti jejak umat-umat
sebelumnya … dst.--, maka sebagian manusia akan membayangkan bahwa umat
ini tidak akan ditaburi dengan perbuatan tasyabbuh terhadap orang-orang kafir.
Mereka akan membayangkan bahwa umat ini maksum, suci dan terjaga.
Padahal, yang dimaksud bukanlah itu semua, akan tetapi bahwa akan tetap
ada suatu umat pertengahan (umatul wasthi) yakni Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
Merekalah orang-orang yang akan senantiasa tetap di atas As-Sunnah dan tidak
akan terjerat tasyabbuh, sedangkan golongan lain yang memisahkan diri dari Ahlu
Sunnah wal Jama’ah, sesungguhnya sikap memisahkan diri tersebut hanya akan
menjadikan mereka terjatuh ke dalam tasyabbuh. Tidak ada suatu golongan pun
dari umat ini menyimpang dari Sunnah (yakni Ahlu Sunnah, pen.) kecuali akan

9 HR. Abu Dawud hadits no. 652, dishahihkan Hakim, dan disepakati Adz-Dzahabi juz 1 hal. 260.
10 HR. Muslim hadits no. 260.




terjatuh dan tergolong dalam golongan umat yang dibinasakan (umamul halikah),
seperti yang akan kami paparkan nanti, insyaallah.




BAB IV


LARANGAN BERTASYABBUH TERHADAP BEBERAPA HAL
YANG BERSIFAT UMUM


Larangan bertasyabbuh terhadap hal yang bersifat umum ada empat
perkara, yaitu:
Pertama: Masalah Aqidah

Perkara ini adalah perkara yang paling besar dalam tasyabbuh.
Bertasyabbuh dalam perkara ini hukumnya kufur dan syirik. Seperti mensucikan
orang-orang shalih, sharf yakni salah satu cara beribadah kepada selain Allah.
Kemudian seperti mendakwahkan “Anak” atau “Bapak” kepada Allah terhadap
salah satu ciptaan-Nya. Hal itu sebagaimana dakwahan orang-orang Nasrani yang
mengatakan bahwa Al-Masih anak Allah, atau seperti dakwahan orang-orang
Yahudi bahwa Uzair anak Allah. Demikian juga At-Tafarruq (berpecah-pecah) dalam
agama (dien),11 berhukum atau menghukumi dengan undang-undang yang tidak
diturunkan Allah. Dan perkara-perkara lain yang dapat digolongkan dalam bentuk
kekufuran dan kemusyrikan sebab semua itu merupakan masalah aqidah.
Kedua: Yang Berhubungan dengan Hari Besar atau Perayaan-perayaan

Hari-hari besar (perayaan-perayaan) walau sebagian besar termasuk dalam
perkara ibadah, tetapi kadang-kadang ada beberapa bagian yang termasuk adatistiadat.
Kecuali yang dikhususkan dalam syari’at dengan dalil-dalil yang banyak,
dan mengingat pentingnya, maka dikhususkan pelarangannya dengan alasan ada
unsur tasyabbuh di dalamnya.
Ketiga: Masalah Ibadah

Khusus bagi kaum muslimin, bahwa dalam satu tahun hanya ada dua hari
raya saja. Adapaun hari-hari besar lainnya, seperti Maulid Nabi, hari-hari besar,
hari-hari besar nasional, perayaan-perayaan rutin yang mengambil satu hari dalam
setahun, satu kali dalam sebulan, dua hari sekali atau seminggu penuh yang

11 Yakni memisahkan diri dari kebenaran dan dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Tidak termasuk dalam tafarruq
bila berselisih dalam perkara-perkara ijtihadiyah, karena hal ini tidak akan sampai dalam derajat memecah-belah
agama.



selalu diperingati masyarakat, semua itu termasuk tasyabbuh sebagaimana yang
dimaksud dalam nash-nash.

Seperti yang termaktub dalam syari’at bahwa Nabi


secara terperinci
melarang bertasyabbuh dengan orang-orang kafir dalam perkara peribadatan. Di
antaranya, seperti mengakhirkan shalat maghrib, meninggalkan makan sahur,
mengakhirkan berbuka puasa, dan sebagainya yang insyaallah akan kami perinci
nanti.
Keempat: Masalah Tradisi, Akhlak, Tingkah Laku

Seperti pakaian, misalnya. Ini dinamakan sebagai petunjuk lahiriah, dan
petunjuk lahir tersebut diamati dari rupa, bentuk, pola tingkah laku, dan akhlak.
Telah dinyatakan pula secara nyata dan jelas tentang keharaman bertasyabbuh
dalam beberapa perkara, baik secara keseluruhan maupun secara sebagiansebagian;
Seperti larangan mencukur jenggot, memakai bejana atau piring dari
emas, memakai pakaian yang merupakan syi’arnya orang-orang kafir, bertabarruj
(menampakkan perhiasan tubuh pada lelaki yang bukan mahram), ikhtilath
(bergaul campur antar lawan jenis yang bukan mahram), laki-laki yang menyerupai
perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki, dan segala bentuk tradisi
kafir lainnya.




BAB V
HUKUM TASYABBUH


Sesungguhnya hukum tasyabbuh dalam masalah yang menyangkut
beberapa perkara disimpulkan dalam satu keputusan. Karena, masing-masing dari
setiap perkara tasyabbuh ini mempunyai hukum sendiri-sendiri berdasarkan nashnash
yang ada. Juga, berdasarkan kaidah-kaidah syar’i sebelum pendapatnya para
ulama dan ahli fiqih.

Akan tetapi, dalam masalah tasyabbuh ini ada beberapa hukum umum yang
meliputi semua jenis tasyabbuh yang bersifat menyeluruh, bukan bersifat parsial.
Hukum umum tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Ada beberapa perkara dari perbuatan
tasyabbuh terhadap orang-orang kafir
bisa dihukumi sebagai perbuatan syirik atau kufur; seperti tasyabbuh dalam
bidang keyakinan, beberapa perkara masalah ibadah, misalnya tasyabbuh
terhadap orang-orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi dalam perkara-perkara
yang berhubungan dengan masalah tauhid dan aqidah. Contohnya: seperti
ta’thil yakni menafikkan dan mengkufuri nama-nama dan sifat-sifat Allah
Ta’ala, meyakini kemanunggalan hamba dengan Allah, takdis (mensucikan)
seorang nabi atau orang-orang shalih kemudian berdoa serta beribadah kepada
mereka, berhukum dengan syari’at dan perundang-undangan buatan manusia.
Semua itu kalau tidak syirik pasti kufur hukumnya.
2. Ada pula dari beberapa perbuatan yang menjerumuskan kepada perbuatan
maksiat dan kefasikan. Seperti taklid kepada adat-istiadat atau budaya kafir.
Contohnya, seperti makan dan minum dengan tangan kiri, laki-laki menyerupai
wanita (sisay, ed.) atau wanita yang menyerupai laki-laki (tomboy, ed.) dan lain
sebagainya.
3.
Tasyabbuh bisa dihukumi sebagai perbuatan yang makruh bila timbul keraguraguan
antara mubah atau haram karena tidak ada kejelasan hukum.
Maksudnya, kadang-kadang dalam beberapa masalah tingkah laku, adat atau
kebudayaan, serta beberapa masalah keduniaan masih diragukan kedudukan
hukumnya. Apakah masalah tersebut termasuk suatu perkara yang dibenci

ataukah sesuatu yang mubah (dibolehkan). Namun, demi menjaga agar seorang
muslim tidak terperosok, maka dihukumi sebagai sesuatu yang makruh.
Kini timbullah satu pertanyaan, “Apakah ada perbuatan orang kafir yang
dihukumi mubah?”

Kami katakan, bahwa dinyatakannya mubah terhadap perbuatan orang
kafir, karena perbuatan tersebut menyangkut masalah keduaniaan dan bukan
pula merupakan ciri khusus orang-orang kafir. Di samping itu, masalah tersebut
tidak pula membedakannya dari orang-orang muslim yang shalih, serta tidak
menggiring kepada kerusakan yang besar terhadap kaum muslimin, atau
menguntungkan orang-orang kafir sehingga menyebabkan diremehkannya kaum
muslimin.

Sebagian perkara yang mubah tersebut hendaknya semata-mata merupakan
rekayasa materi murni dan tidak akan menyebabkan kaum muslimin tergiring
untuk mengikuti kaum kafir, sehingga bakal membahayakan mereka. Demikian
juga dengan ilmu-ilmu murni keduniaan yang tidak menyangkut aqidah dan
akhlak, maka semua ini termasuk dalam perkara mubah.

Kadang-kadang kaum muslimin harus mengambil manfaat dari ilmu-ilmu
murni keduniaan yang dimiliki orang-orang kafir. Dan, yang dimaksud dengan
murni (bahtah) adalah tidak mengandung unsur-unsur atau tanda-tanda yang
bertentangan dengan nash-nash atau kaidah-kaidah syar’i. Atau, yang dapat
menjerumuskan kaum muslimin pada kehinaan dan kekerdilan. Bila ketentuan
tersebut dipenuhi, maka bisa dimasukkan ke dalam kategori mubah.12

Jika dalam perkara-perkara aqidah, ibadah, hari-hari besar, keharamannya
telah ditetapkan secara qath’i (tegas). Itu berarti, bahwa keharaman bertasyabbuh
terhadap orang-orang kafir, dalam hal-hal tersebut di atas telah pula ditetapkan
secara qath’i.

12 Sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk lepas dari kungkungan orang kafir semampu mungkin. Akan
tetapi, yang demikian itu tidak boleh melalaikan kewajiban asasi seorang muslim, seperti jihad, menyuruh
kema’rufan, mencegah kemungkaran, dakwah dan menegakkan agama. Dan tidak boleh bagi seorang muslim
bersifat rakus dalam usaha mengeruk perkara-perkara keduniaan, tetapi hendaknya harus sesuai dengan batas


batas yang ditentukan syari’at, sebagaimana pernah dilakukan Rasulullah , sahabat, dan para salaful ummah
(umat terdahulu). Tidak ada larangan untuk memanfaatkan benda-benda buatan mereka (kaum kafir), hurufhuruf,
dan benda-benda lain selama tidak mengakibatkan kekerdilan dan kehinaan muslimin. Dan, kami lihat
terus terang merupakan kewajiban muslimin sekarang ini untuk mengejar ketinggalan mereka di bidang materi,
tapi dengan catatan harus tetap berpegang teguh pada agama (dien) dan aturan-aturan syari’at terlebih dahulu,
kemudian baru berusaha untuk mencari keunggulan di bidang materi. Sebab, menegakkan agama lebih penting
daripada keunggulan materi. Wallahu a’lam.



Selain masalah tersebut di atas, hal-hal yang menyangkut tradisi budaya
(selama menunjukkan bahwa perbuatan itu merupakan ciri khusus kaum kafir,
ed.) maka hal itu termasuk tasyabbuh yang diharamkan. Dan, kalau bukan
merupakan ciri khusus mereka, maka hukumnya salah satu di antara tiga, yakni
bisa haram, makruh, atau mubah. Sedangkan, dalam masalah-masalah ilmu dan
perkara-perkara keduniaan murni, seperti penemuan atau pembuatan barangbarang
bersifat umum, pembuatan senjata, dan lain-lain maka hukumnya
termasuk mubah, jika memenuhi syarat-syarat di atas.




BAB VI


GOLONGAN-GOLONGAN YANG TERLARANG DITASYABBUHI


Dengan menelaah dan mengkaji nash-nash syar’i maka kita akan dapat
mengenali beberapa golongan (yang dilarang untuk ditiru, ed.), tidak saja secara
garis besar, tetapi juga secara mendetil.
Golongan Pertama: Orang Kafir

Sebagaimana telah dinyatakan, bahwa secara umum bertasyabbuh kepada
orang-orang kafir, dengan tanpa kecuali, adalah sangat terlarang. Termasuk
golongan ini adalah orang-orang musyrik, Yahudi, Nasrani, Majusi, Syaibah, orang-
orang Komunis, dan lain-lain. Kita dilarang bertasyabbuh terhadap setiap perkara
yang merupakan ciri khas orang kafir, baik dalam ibadah, adat-istiadat, maupun

pakaian. Seperti sabda Nabi


kepada Abdullah bin Umar ra. Ketika beliau
melihatnya berpakaian dengan dua pakaian berwarna kuning keemasan, sabda
beliau: “Sesungguhnya pakaian ini adalah dari orang-orang kafir, maka janganlah
kamu memakainya.”
Hal ini merupakan dalil, bahwa jika pakaian itu merupakan pakaian khas
orang-orang kafir maka seorang muslim tidak boleh memakainya.13
Golongan Kedua: Orang-orang Musyrik

Kita telah dilarang bertasyabbuh terhadap cara ibadah mereka, perayaan
hari-hari besar mereka, perbuatan-perbuatan mereka, seperti muka’an wa
tashdiyah yakni beribadah dengan cara bersiul-siul dan bertepuk tangan, minta
syafaat dan tawassul dengan makhluk ciptaan Allah swt. di dunia, bernadzar dan
berkurban di pekuburan, dan perbuatan-perbuatan lainnya. Termasuk perbuatan
yang dilarang pula yakni meninggalkan padang Arafat sebelum maghrib (dalam
berhaji) sebab perbuatan tersebut merupakan perbuatan kaum musyrikin.

13 Sebagian pakaian yang merupakan pakaian khas orang kafir adalah pantalon. Oleh karena itu tidak boleh
memakainya di negeri-negeri muslimin, walaupun banyak dipakai oleh orang yang serba kebarat-baratan dan
inilah yang banyak menimpa di sebagian negeri-negeri muslimin. Akan tetapi, ibrah (contoh pelajaran) harus
diambil dari orang-orang yang istiqamah, orang-orang yang faqih dalam agama, bukan dari banyaknya orang
yang memakai, karena pantalon yang ketat menampakkan bentuk aurat. Sebagian lagi ciri khas orang kafir,
contohnya topi Yahudi dan lambang salib milik orang-orang Nasrani.




Para pendahulu kita (as-salafus shalih) sangat membenci setiap perkara
yang merupakan ciri khas milik orang-orang musyrik dan semua yang termasuk
perbuatan-perbuatan mereka. Seperti kata Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, ra. dan
yang lainnya: “Barangsiapa yang membuat bangunan di negeri orang-orang musyrik
serta membuat panji-panji dan pataka-pataka (bendera lambang komando) mereka
hingga akhir hayatnya, maka akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat.” 14

Dan Ibnu Umar ra. membenci meletakkan hiasan-hiasan di masjid dan
melarang dari hal tersebut serta semua hal yang berhubungan dengan masalah
itu, karena menurut beliau ra. bahwa hal itu menyerupai patung-patung orang
musyrik.15
Golongan Ketiga: Ahli Kitab

Yang dimaksud Ahli Kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Kita
dilarang meniru semua perkara yang merupakan ciri khas orang-orang Yahudi dan
Nasrani, baik dalam bidang aqidah, ibadah, adat-istiadat (budaya), dalam
berpakaian, atau hari-hari besar mereka. Contohnya: membuat bangunan di atas
kuburan, dan menjadikannya masjid, menggantungkan gambar-gambar (foto-foto),
mengekspose wanita, meninggalkan makan sahur, tidak menyemir rambut yang
memutih (dengan warna selain hitam, pent.), menggantung atau memasang salib,
ikut memperingati dan merayakan hari-hari besar mereka dan lain-lain.
Golongan Keempat: Orang-orang Majusi

Sebagian ciri khas orang-orang Majusi adalah menyembah dan beribadah
kepada api, mensucikan raja-raja dan para pembesar, mencukur rambut bagian
kuduk dan membiarkan rambut bagian depan, mencukur jenggot, memanjangkan
kumis, meniup peluit atau terompet, dan memakai piring atau bejana dari emas
dan perak.
Golongan Kelima: Persia dan Romawi

Termasuk golongan ini tentu saja Ahli Kitab, Majusi dan lainnya, Persia dan
Romawi. Kita juga telah dilarang bertasyabbuh dengan hal-hal yang merupakan
ciri khas mereka dalam peribadatan, kebudayaan, cara dan tata tertib keagamaan.
Seperti, mengagungkan dan mensucikan pembesar-pembesar dan orang-orang

14 Sunan Baihaqi juz IX hal. 234.
15 Lihat Al-Mushannif oleh Ibnu Abi Syaibah juz I hal. 309, dan Iqtidla Shirathal Mustaqim oleh Ibnu
Taimiyah juz I hal. 344.




terhormat, mentaati pendeta (alim ulama) dan rahib-rahib (orang-orang shalih)
yang mensyari’atkan sesuatu yang tidak disyari’atkan Allah, berlebih-lebihan serta
melampaui batas dalam beragama.

Golongan Keenam: Orang-orang ‘Ajam yang Bukan Muslimin

Hal ini berdasarkan sabda Nabi


ketika beliau melarang seorang laki-laki
yang memakai sutera di bagian bawah pakaiannya, dengan sabda beliau: “Seperti
orang ‘Ajam (bukan Arab, non Muslim, pent.).” 16, atau terhadap orang yang
menambahkan sutera di bagian pundak pakaiannya, dengan sabdanya: “Seperti
orang ‘Ajam (bukan Arab, yang non muslim, pent.)” 17.
Dan, beliau


juga melarang berdiri menyambut pembesar sebagai
penghormatan. Bahkan, beliau melarang perbuatan yang sama bagi makmum
terhadap imamnya dengan alasan yang sama, sebab dikhawatirkan mereka
memahami bahwa yang demikian itu adalah salah satu cara penghormatan. Hal itu
sebagaimana dinyatakan dalam asbabul wurud dari hadits tersebut, bahwa yang
demikian itu bertasyabbuh dengan perbuatan orang-orang ‘Ajam yang berdiri
untuk menghormati kedatangan pembesar-pembesar mereka. Hal inilah yang
dilarang, karena bertasyabbuh dengan orang-orang kafir ‘Ajam.18
Perkara ini dikuatkan pula oleh Umar bin Khattab ra. Beliau melarang
berpakaian seperti orang ‘Ajam sebagaimana halnya terhadap orang-orang
musyrik. Beliau menyampaikan larangan tersebut dengan keras sekali. Demikian
pula dengan yang diisyaratkan oleh para as-salaf ash-shalih.
Golongan Ketujuh: Orang-orang Jahiliyah dan Ahlinya

Kita juga telah dilarang dari segala hal yang berbau jahiliyah, baik dalam
akhlak, ibadah, adat, maupun syi’ar-syi’arnya. Seperti membuka wajah dan
bertabarruj bagi wanita, tidak berpakaian di bawah terik matahari pada waktu
ihram sehingga dia meminta-minta pakaian. Hal ini seperti yang dilakukan oleh
orang-orang Rafidlah zaman sekarang ini. Semua ini merupakan perbuatan
jahiliyah dan amalan orang-orang musyrik. Demikian juga bertelanjang (tidak
memakai pakaian, yakni menampakkan aurat, baik keseluruhan maupun sebagian

16 Dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, hadits no. 4049. Dan Nasa’i juz VIII hal. 143,
Imam Ahmad juz IV hal. 134. Dan lihat Iqtidla Shirathal Mustaqim oleh Ibnu Taimiyah juz I hal. 304.
17 Idem.
18 Lihat Shahih Muslim hadits no. 413, Sunan Abu Dawud hadits no. 602, 606, 5230, Ibnu Majah hadits no.
1240 dan Musnad Ahmad juz V hal. 253, 256.





saja), fanatik kebangsaan, berbangga-bangga dengan kebangsawanan dan mencela
nasab, meratapi mayat dan meminta hujan kepada bintang-bintang (yakni
berpendapat bahwa hujan turun karena musim dan bukan karena rahmat Allah,

pent.). Nabi


telah membantah dan membatalkan semua yang berbau jahiliyah
dengan Islam, baik pahamnya, kebudayaannya, atau taklidnya (ikut-ikutan tanpa
ilmu), peraturan dan perundangannya, iklan-iklan dan propagandapropagandanya.
Golongan Kedelapan: Setan

Golongan lainnya yang terlarang untuk dijadikan figur peniruan (tasyabbuh)
adalah setan. Nabi


telah menerangkan perbuatan-perbuatan setan itu dan kita
dilarang menirunya. Seperti, makan dan minum dengan kiri. Sebagaimana
diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya: Bahwa Nabi


bersabda: “Janganlah
kalian makan dengan tangan kiri dan jangan pula minum dengannya (tangan kiri).
Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengannya (tangan
kiri pula).” 19
Tetapi sayangnya, perbuatan ini banyak dilakukan di kalangan kaum
muslimin dengan menganggap bahwa perbuatan itu adalah perbuatan sepele, atau
memang karena ketakabburannya terhadap kebenaran, serta iman meniru-niru
auliya’u setan (teman-teman setan) dari golongan orang-orang kafir dan fasik.
Golongan Kesembilan: Orang-orang Badui yang Tidak Sempurna Agamanya

Mereka adalah orang-orang Badui (Arab) yang jahil. Banyak orang-orang
Arab yang memakai hukum perundang-undangannya berdasar adat dan taklid
(mengikuti nenek moyang, ed.), tidak berdasarkan Islam sama sekali. Semuanya
itu merupakan warisan jahiliyah, bahkan ada orang-orang Badui yang fanatik
terhadap adat-istiadat dan kebudayaannya, doktrin-doktrin hari-hari besar, taklid,
serta berbagai atribut lainnya meskipun bertentangan dengan syari’at Islam.

Di antaranya, fanatik jahiliyah (kebulatan tekad untuk mempertahankan
kejahiliyahan), membangga-banggakan kebangsawanan, mencela nasab,
menamakan maghrib dengan isya dan menamakan isya dengan al-atamah
(kegelapan malam), bersumpah untuk thalak, menggantungkan thalak, tidak
menikah kecuali dengan anak pamannya, dan adat-adat jahiliyah lainnya.

19 HR. Muslim hadits no. 2019.




BAB VII


FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KAUM MUSLIMIN
TERJEBAK DALAM TASYABBUH


Pertama kali yang perlu kita ketahui bahwa masalah ini (yakni tasyabbuh,
pent.) adalah suatu masalah yang baru dan diada-adakan. Kalau bukan sebagai
masalah baru, tentu masalah tersebut sudah terjadi, seperti yang disinggung oleh

.
Nabi

Kedua, yang harus kita ketahui berdasarkan kaidah-kaidah yang telah
diuraikan di muka, bahwa orang-orang yang telah terjebak dalam tasyabbuh
terhadap orang-orang kafir bukan termasuk ahlul haq dan bukan pula termasuk
Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Sesungguhnya orang-orang yang telah terjebak dalam
perangkap tasyabbuh adalah termasuk ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan
ahlul iftiraq (kelompok sempalan). Tidak ada satu golongan pun yang memisahkan
diri dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah kecuali pasti di dalamnya ada unsur
ketasyabbuhan dengan orang-orang kafir, sedikit atau banyak!

Sebab-sebab Pokok yang Menjatuhkan Kaum Muslimin Kepada Tasyabbuh
Terhadap Orang-orang Kafir

1. Tipu daya orang-orang kafir terhadap Islam dan kaum muslimin
Inilah yang terjadi sejak lahirnya Islam hingga hari ini. Orang-orang kafir
dengan segala jenis ajarannya, aqidahnya, serta dengan segala bentuk aturan dan
hawa nafsunya berusaha memperdayakan Islam. Sebagian dari pelaksanaan
program tipu daya mereka adalah menjebak kaum muslimin supaya bertasyabbuh
dalam masalah aqidah, adat-istiadat, hari-hari besar dan perayaan-perayaan, serta
dalam tingkah laku. Oleh karena itu dapat kita temukan, bahwa sebagian besar
faktor yang menyebabkan kaum muslimin berpecah-belah adalah karena hasil tipu
daya orang-orang kafir.

Tidak satu kelompok pun yang menyempal dari umat (Ahlu Sunnah) kecuali
kita temukan di sana salah satu penyebabnya adalah adanya sekelompok orang-
orang kafir yang menyelinap di kalangan kaum muslimin kemudian



menghembuskan keonaran dan perpecahan. Setelah itu mereka menyiarkan
perpecahan itu di kalangan pengikut hawa nafsu dan orang-orang yang
menyepelekan agama, atau kepada para tokohnya beserta para pengikutnya. Jadi
tipu daya orang-orang kafir adalah merupakan pokok penyebab terjebaknya kaum
muslimin ke dalam tasyabbuh. Sedangkan, Allah Ta’ala telah memberi tahu kepada
kita tentang hal itu dengan firman-Nya: “Dan tidak akan rela kepadamu orang-
orang Yahudi dan Nasrani itu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-
Baqarah: 120).

Dan, juga firman-Nya: “Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan)
kemadlaratan bagimu. Mereka menyukai apa-apa yang menyusahkanmu. Telah
nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka
adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali Imran: 118). Kemudian firman-Nya pula: “Orangorang
kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan
diturunkannya suatu kebaikan kepadamu dari Rabb-mu.” (QS. Al-Baqarah: 105).
Dan firman-Nya: “Jika kamu mentaati orang-orang kafir niscaya mereka
mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran kembali).” (QS. Ali Imran: 149).
Dan firman-Nya: “Jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-
Kitab (Nasrani dan Yahudi) niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi
orang-orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100).

Jadi tidak diragukan lagi bahwa mereka (orang-orang kafir) sangat
mengharapkan, bahkan dengan tiada henti-hentinya, agar kaum muslimin keluar
dari agamanya. Oleh karena itu kaum kafir sekarang ini lebih gencar lagi
mencurahkan tenaganya dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya. Dan,
setiap muslim yang mau mengamati segala yang menimpa kaum muslimin di
seluruh dunia sekarang ini tentu akan bisa merasakan serbuan orang-orang kafir
kepada umat Islam itu. Dan, dalam upayanya tersebut, orang kafir memusatkan
perhatiannya kepada berbagai urusan di antaranya bidang aqidah, kebudayaan,
keorganisasian, politik, akhlak, dan lain-lain. Sesungguhnya orang-orang kafir dan
antek-anteknya telah menghimpun kekuatan untuk menjebak umat Islam ke
dalam jurang tasyabbuh. Jebakan mereka tersebut lebih dasyat dari yang telah
dilakukan pada zaman manapun di masa lalu.


2. Kebodohan umat dan tidak adanya pemahaman terhadap Islam
Yakni kebodohan mereka terhadap hukum-hukum agama dan manhaj
Salafush Shalih (yaitu manhaj Rasulullah


dan para sahabat serta tabi’in, tabi’it
tabi’in, dan para imam yang mendapat petunjuk).
3. Kelemahan umat Islam dalam bidang materi, maknawi dan kemiliteran
Sehingga menjadikan mereka merasa lemah dan kerdil, kalah dan terusir,
serta dikuasai orang kafir dalam semua bidang kehidupan.

4. Tipu daya orang-orang munafik
Kaum munafik ini tumbuh dan berkembang di kalangan kaum muslimin.
Mereka adalah pelaku-pelaku ajaran itu sendiri, akan tetapi mereka sangat kuat
dukungannya kepada orang-orang kafir di setiap zaman, dahulu maupun
sekarang. Oleh karena itu orang-orang munafik yang ada dalam kalangan kaum
muslimin ini mempunyai peranan amat besar terhadap upaya menjerumuskan
kaum muslimin ke dalam tasyabbuh.

Adapun yang dimaksud orang-orang munafik adalah mereka yang termasuk
kelompok:
a) Orang-orang yang mendakwahkan dirinya muslim yang berasal dari orang-

orang kafir. Mereka masuk Islam secara lahirnya saja, dengan tujuan untuk
membuat tipu daya.
b) Orang-orang yang aslinya muslim akan tetapi kemudian murtad dan
menyeleweng.

c)
Orang-orang yang cenderung kepada kefasikan dan perbuatan-perbuatan dosa,
walaupun ia mengaku Islam. Kebanyakan dari orang-orang yang terjebak dalam
tasyabbuh dengan orang-orang kafir adalah orang-orang yang di dalam hatinya
ada penyakit. Orang-orang semacam inilah yang menyukai tersebarluasnya
hawa nafsu setan dan kekejian-kekejian di kalangan kaum muslimin,
sebagaimana yang diperbuat kaum orientalis Barat dan lain-lainnya.

Selain faktor-faktor tadi masih banyak faktor lainnya yang menyebabkan
kaum muslimin terjerembab ke dalam tasyabbuh terhadap orang-orang kafir.



BAB VIII


CONTOH-CONTOH PRAKTIS TASYABBUH YANG DILARANG
RASULULLAH


I. Iftiraq (Memisahkan Diri dari Jama’ah Ahlu Sunnah)
Masalah pertama yang secara tegas dilarang oleh Nabi


atau secara syar’i
dari sikap tasyabbuh terhadap orang-orang kafir adalah iftiraq fi dien (berpecah
belah dalam agama). Masalah ini banyak dinyatakan dalam Al-Quranul Karim dan
dalam As-Sunnah yang tsabit dan shahih.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang
yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kebenaran kepada mereka.” (QS.
Ali Imran: 105). Kemudian dihubungkan dengan pernyataan Nabi


tentang akan
berpecah-belahnya umat ini: “Orang-orang yahudi terpecah menjadi 71 firqah, dan
orang-orang Nasrani terpecah menjadi 72 firqah, sedangkan umat ini akan terpecah
menjadi 73 firqah.”
II. Membuat Bangunan di Atas Kubur, Menjdikannya Masjid dan Diibadahi,
serta Menggantung Gambar
Beberapa masalah ini banyak dinyatakan dalam berbagai nash di antaranya
sebagai berikut:


Dari Ali ra. berkata: “Rasulullah
memerintahkan kepadaku supaya jangan
membiarkan satu kuburan pun yang dimuliakan kecuali engkau ratakan, dan
jangan membiarkan satu arca pun kecuali engkau hancurkan.” 20

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dengan sanad yang shahih: Dari
Mu’awiyah ra. berkata: “Sesungguhnya meratakan kubur itu merupakan sunnah,
dan orang-orang Yahudi dan Nasrani telah meninggikannya, maka jangan
bertasyabbuh dengan mereka.” 21
Yakni membuat bangunan di atas kubur. Bala ini –yakni meninggikan kubur itu
sendiri—merupakan bala paling besar yang menimpa kaum muslimin di segala

20 Hadits shahih diriwayatkan Muslim hadits no. 969.
21 Iqtidla Shirathal Mustaqim oleh Ibnu Taimiyah juz I hal. 342.




:
penjuru bumi sekarang ini. Oleh karena itu sungguh benar sabda Nabi

“Pastilah kalian akan melakukan cara orang-orang sebelummu.”

Selain itu ada pula yang menjadikan kubur para nabi sebagai masjid. Arti
menjadikan kubur para nabi sebagai masjid adalah membuat bangunan di atasnya
(yang berupa masjid atau bangunan lainnya, ed.) kemudian dipakai untuk shalat.

Dengan meniru perbuatan tersebut, maka dibangunlah juga kuburan orang-
orang shalih di masjid walaupun setelah dibangunnya masjid itu. Semua ini
termasuk dalam larangan. Termasuk yang dilarang adalah menjenguk atau
menziarahi kubur dengan tujuan berdoa di sana, atau berdoa kepada mayat, atau
dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepadanya. Semua itu adalah perbuatan

yang biasa dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani, padahal Nabi


telah
memperingatkan tentang hal itu dengan peringatan yang sangat keras.

Juga, seperti yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulullah

 lima
puluh hari sebelum beliau wafat bersabda: “Aku berlepas diri kepada Allah kalau
sampai dijadikan sebagai khalil (teman, kekasih), karena Allah telah menjadikanku
sebagai kekasih-Nya seperti menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Kalau
seandainya aku dibolehkan mengambil orang sebagai kekasih (khalil) pasti aku
jadikan Abu Bakar sebagai khalilku. Waspadalah, sesungguhnya orang-orang
sebelummu telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid, dan aku
melarang kalian dari berbuat yang demikian itu.” 22

Dan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim), Nabi


pernah bersabda: “Celakalah
orang-orang Yahudi, yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai
masjid.” 23 Dan, dalam lafadz Muslim: “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan
Nasrani karena mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” 24
Dan, dalam Shahihain: Dari A’isyah dan Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma berkata:
ketika Rasulullah


tertimpa sakit sampai wafatnya,beliau menutupkan selimut ke
wajahnya, dan ketika beliau merasa penuh dengannya maka disingkapnya dari
wajah beliau, dan beliau bersabda sedang ia dalam keadaan demikian itu: “Laknat
Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kubur para nabi
22 Shahih Muslim hadits no. 532.
23 Shahih Bukhari, Fathul Bari hadits no. 437.
24 Shahih Muslim hadits no. 530.




mereka sebagai masjid.” Beliau memperingatkan atas apa yang telah mereka
perbuat. 25

Dalam riwayat lain Nabi


bersabda mengomentari kisah Ummu Salamah
dan Ummu Habibah ketika mereka melihat gereja yang sangat indah dengan
dihiasi gambar-gambar di dalamnya, maka bersabda Nabi : “Mereka adalah
kaum yang apabila meninggal seorang yang shalih atau laki-laki yang shalih,
dibangunlah di atas kubur mereka sebuah tempat peribadatan dan mereka hiasi
dengan gambar-gambar sang mayat tersebut. Mereka adalah seburuk-buruk
makhluk di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.” 26

Masalah itulah yang merupakan ujian yang paling berat bagi muslimin
zaman sekarang ini.

III. Fitnah Wanita
Masalah yang paling dahsyat dan paling berbahaya dari tasyabbuh yang
menimpa kaum muslimin adalah fitnah wanita. Masalah ini merupakan hasil
rekayasa orang-orang kafir.

Yang dimaksud dengan fitnah wanita adalah keluarnya mereka dari tempat
tinggalnya (rumah) tanpa memakai hijab (jilbab) dan mencampakkan rasa malunya
sehinnga menjadikan fitnah di kalangan laki-laki. Dikhususkannya wanita dalam
hal ini, karena:

1. Wanita sangat mendambakan kemegahan dunia.
2. Wanita dapat menarik laki-laki kepada ketaklidan (hal yang bisa menjadikan
mengikuti dengan begitu saja) serta merupakan salah satu perantara hingga
terjadi yang demikian itu.
3. Wanita diciptakan dengan daya pikat yang hebat terhadap laki-laki, terutama
dengan rayuannya. Demiian pula laki-laki dijadikan cenderung kepada wanita
jika mereka berpapasan dengan tanpa memakai hijab dan tanpa diiringi rasa
malu.
Dari banyak kasus tasyabbuh terhadap Ahli Kitab dan orang-orang kafir,
baik dalam adat-istiadat, akhlak, hari-hari besar dan perayaan-perayaannya, yang

25 Shahih Bukhari, Fathul Bari hadits no. 435, 436, dan Muslim hadits no.531.
26 Shahih Bukhari, Fathul Bari hadits no.435, 436, dan Shahih Muslim hadits no.531.



pertama kali terjerat adalah wanita. Kemudian, diikuti dengan para orang tua dan
orang-orang jahil.

Sayangnya gejala ini --yakni fitnah wanita-- sudah menjamur di kalangan

kaum muslimin di zaman sekarang ini. Padahal Nabi


telah memperingatkan
akan hal itu dalam sabdanya: “Waspadalah terhadap dunia dan wanita, karena
sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah karena wanita.” 27
Yakni, jika wanita dijadikan panutan, karena hubungan laki-laki dengan
wanita harus seperti yang telah digariskan dalam ketentuan-ketentuan Allah
Ta’ala.28 Dan, bila seorang wanita mulai meninggalkan rasa malu dan
menanggalkan hijab, maka sesungguhnya hal itu adalah salah satu jalur terjadinya
fitnah. Dan, sebagian besar umat jika telah terjebak dalam perangai ini, maka
jadilah mereka umat yang tidak beruntung diennya dan akan dikuasai oleh fitnah.

IV. Tidak Menyemir Rambut yang Beruban
Sebagian dari yang dilarang Nabi


dalam bertasyabbuh dengan orang-
orang kafir adalah membiarkan rambut beruban dan tidak disemir. Perbuatan
semacam itu adalah menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Seperti yang termaktub dalam Shahihain: Dari Abu Hurairah ra. berkata:

bersabda Rasulullah : ”Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak
menyemir ubannya, maka selisihilah mereka.” 29 Dengan syarat tidak menyemirnya
dengan warna hitam seperti yang dinyatakan dalam nash-nash lainnya.

V. Memotong Jenggot dan Memelihara Kumis
Perbuatan demikian itu menjadikan mereka tasyabbuh terhadap orang-
orang musyrik, Majusi, Yahudi, dan Nasrani. Seperti yang banyak dinyatakan

dalam hadits shahih dari Nabi


tentang keharusan memelihara jenggot dan

memotong kumis. Dan, yang menjadi sebab, menurut Nabi


adalah untuk

membedakan dari orang-orang musyrik dan Majusi. Bersabda beliau

“Selisihilah orang-orang musyrik, cukurlah kumis dan panjangkanlah jenggot.” 30

Dan, dalam riwayat lain seperti yang termaktub dalam hadits Muslim juga:

27 Shahih Muslim hadits no. 2742.
28 Memuliakan wanita adalah perintah syar’i, tetapi bukan dengan mentaati mereka dalam kemaksiatan, dan
tidak boleh membiarkan mereka menguasai rumah tangga atau menguasai laki-laki, karena hal ini bertentangan
dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
29 Shahih Bukhari, Fathul Bari hadits no. 3462, dan Shahih Muslim hadits no. 2103.
30 HR. Bukhari, Fathul Bari hadits no. 5893, dan Muslim hadits. No 29.


:


“Potonglah kumis dan panjangkanlah jenggot. Selisihilah dengan orang-orang
Majusi.” 31

VI. Menanggalkan Sepatu atau Khuf Ketika Shalat
Termasuk yang dilarang Nabi


karena menyerupai orang-orang kafir dan
merupakan ciri khas orang-orang Yahudi adalah tidak mengenakan sepatu
ataupun khuf (sepatu dari kulit yang menutup mata kaki) dalam shalat, padahal
telah ada larangan melepas sepatu ketika shalat. Hal itu merupakan sesuatu yang
lazim agar berbeda dengan orang-orang Yahudi selama tidak menimbulkan
kekhawatiran tidak menimbulkan penyakit.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Hakim, kemudian dishahihkannya, serta

disetujui Adz-Dzahabi; bersabda Nabi : “Selisihilah orang-orang Yahudi.
Sesungguhnya mereka tidak shalat atas sepatu mereka dan tidak pula atas khufkhuf
mereka.” 32 Hal ini banyak menimpa orang-orang yang jahil (bodoh) dan para
ahli bid’ah dengan mengingkari perbuatan sunnah tersebut.

Sedangkan, shalat dengan memakai sepatu di kalangan ahli ilmu
merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan, tetapi jika masjidnya memakai karpet
atau permadani maka tidak disyari’atkan shalat dengan bersepatu. Adapun Nabi


shalat memakai sepatu disebabkan beliau shalat di atas tanah, atau dengan
kata lain bahwa lantai masjid beliau pada waktu itu belum menggunakan
permadani atau karpet. Oleh karena itu kewajiban bagi setiap muslim untuk
menjaga dan menjalankan sunnah, jika di tempat shalat yang tidak menggunakan
karpet atau permadani, maka berusahalah shalat dengan tetap memakai sepatu
sebagai pengejawantahan perintah Nabi . Meskipun, hal tersebut tidak secara
terus menerus diamalkan, karena yang demikian itu tidak dicontohkan para
pendahulu kita (Salafush Shalih).

VII. Membeda-bedakan Kelas
Yakni membeda-bedakan dalam hak dan kewajiban serta dalam memberi
imbalan (balasan) atau hukuman (pidana) di dalam sistem perundang-undangan
antara orang-orang yang terhormat dengan orang-orang yang lemah, seperti yang
dilakukan oleh orang-orang Yahudi.

31 Shahih Muslim hadits no. 260.
32 HR. Abu Dawud hadits no. 652, dan Hakim dan dishahihkannya, serta disepakati Adz-Dzahabi pada juz I hal.


260.


Seperti yang dinyatakan dalam Shahihain tentang kisah syafa’at Usamah

bin Zaid ra. yang mengeluh tentang besi yang hilang karena dicuri, Nabi
bersabda: “Wahai Usamah, apakah kau mau minta dispensasi atas hukuman Allah?
Celakanya Bani Israil lantaran jika orang-orang bangsawan (penguasa) mencuri
dibiarkan, tetapi jika orang-orang lemah mencuri maka ditegakkan atasnya
hukuman. Demi yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Fatimah binti Muhammad
mencuri pasti aku potong tangannya.” 33


VIII. Menutup Mulut dan Memakai Baju Hanya Pada Satu Pundak Ketika
Shalat
Salah satu perbuatan bertasyabbuh terhadap orang-orang kafir yang
dilarang adalah memakai baju atau kain di satu pundak saja (sadl) dan tidak
menutupkan di pundak lainnya, dan menutupi mulutnya dengan kain (at-talatsum)
ketika shalat. Karena, yang demikian itu termasuk perbuatan orang-orang Yahudi.

Seperti yang telah diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Imam Ahmad,
dan Hakim, dann dinyatakan menurut syarat Shahihain (Bukhari dan Muslim),

bahwa Rasulullah


bersabda: “Terlarang mengenakan baju atau kain hanya di
satu pundak (sadl) dan menutupi mulutnya ketika shalat.” 34 Sebagian sahabat
menyatakan bahwa sebabnya adalah karena yang demikian itu merupakan
perbuatan orang-orang Yahudi.
IX. Bertabarruj, Menampakkan Wajah, dan Keluarnya Wanita Tanpa
Kepentingan Syar’i
Sebagian tasyabbuh dengan orang-orang kafir dan orang-orang jahiliyah
bertabarruj (menampakkan aurat kepada lelaki bukan mahramnya), menampakkan
wajahnya, dan keluarnya wanita dari rumah tanpa ada kepentingan yang
dibenarkan syar’i.

Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah
kamu berhias dan berperilaku seperti orang-orang jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab:
33). Berkata Ibnu Mas’ud ra.: “Janganlah menampakkan aurat dan janganlah
mengikuti jejak orang-orang musyrik.”35

33 Shahih Bukhari, Fathul Bari hadits no. 3475, dan Muslim hadits no. 1688.
34 Abu Dawud hadits no. 643, Tirmidzi hadits no. 378. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Hakim.
35 Iqtidla Shirathal Mustaqim oleh Ibnu Taimiyah juz I hal. 340.




X. Ikhtishar Dalam Shalat
Yang dimaksud dengan ikhtishar dalam shalat yakni meletakkan tangan di
atas lambung, karena sunnah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri pada
waktu shalat adalah di atas dada bukan di atas lambung. Oleh karena itu
meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas lambung pada waktu shalat
merupakan perbuatan terlarang, karena hal itu merupakan perbuatan orang-orang
Yahudi.

Seperti yang dinyatakan A’isyah ra. bahwa dia membenci berikhtishar dalam
shalat. Katanya: “Jangan menyerupai orang-orang Yahudi!” Dan katanya:
“Sesungguhnya orang-orang Yahudi mengerjakan yang demikian itu.” 36

XI. Perayaan, Pesta, dan Memasang Umbul-umbul
Seperti telah diketahui bahwa tidak disyari’atkan berhari raya kecuali Idul
Adha dan Idul Fitri. Sesungguhnya memperbanyak hari besar merupakan ajaran
agama Ahli Kitab, orang-orang kafir, musyrikin, Majusi, dan orang-orang jahiliyah.

Dan, Nabi


telah melarang kaum muslimin merayakan lebih dari dua hari raya
itu (Idul Adha dan Idul Fitri).
Allah Ta’ala telah berfirman tentang sifat-sifat ‘ibadurrahman: “Dan orang-
orang yang tidak menjadi saksi perkara-perkara yang sia-sia.” (QS. Al-Furqan: 72)
Kalangan mufassir berkata, bahwa yang dimaksud dengan al-zuur di sini
adalah hari-hari besar atau perayaan-perayaan kaum musyrik dan kafir. Dan,
hari-hari besar merupakan perkara syar’i dan termasuk ibadah, maka tidak boleh
dikerjakan kecuali ada dalil yang menunjukkannya (atas tauqifiyah).37

Perkara tersebut adalah perkara ibadah, maka tidak boleh ditambah-tambah

ataupun dikurangi dari apa yang telah disyari’atkan Nabi . Oleh karena itu tidak
dibolehkan siapa pun untuk menambah satu hari raya saja, walaupun yang
semisal. Karena, yang demikian itu berarti telah membuat syari’at baru di samping
syari’at Allah. Demikian juga tidak boleh mengurangi Ied yang sudah disyari’atkan
Allah, karena yang demikian itu berarti juga telah membuat syari’at baru. Hal itu

bisa menyeret kepada kekufuran. Maka, Rasulullah


melarang penduduk
36 Shahih Bukhari, Fathul Bari hadits no. 3458. Dan, dalam Mushannif Abdurrazzaq hadits no. 3338, serta
Iqtidla Shirathal Mustaqim juz I hal. 343-344.
37 Lihat kembali Tafsir Ibnu Katsir juz III hal. 328, 329.




Madinah menghidupkan hari-hari besar mereka ataupun sejarah kebudayaan
tradisionalnya.

Seperti yang diriwayatkan Abu Dawud, Ahmad, dan Nasa’I dengan sanad

yang shahih dengan syarat Muslim: Rasulullah


tiba di Madinah, ketika itu
mereka mempunyai dua hari raya dan mereka bersuka ria pada kedua hari itu.
Maka, beliau bertanya: “Dua hari raya apa ini?” Mereka menjawab: “Dua hari di
mana kita bersuka ria di masa jahiliyah.” Maka Rasulullah


bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untukmu dua hari raya yang lebih baik
daripada itu, yakni Idul Adha dan Idul Fitri.” 38

Dan, Umar bin Khattab ra. pernah berkata: “Jauhilah musuh-musuh Allah
dengan menjauhi (tidak merayakan) hari-hari besar mereka.” 39

Karena Ied (hari raya) merupakan ketetapan syari’at maka tidak boleh
ditambah-tambah ataupun dikurangi.

Seperti yang telah dimaklumi di kalangan ahli ilmu bahwa ternasuk hari
besar adalah semua keramaian (perayaan) yang diadakan muslimin –dalam hal
ini—pada waktu-waktu tertentu secara berulang-ulang (rutin). Boleh jadi setiap
bulan atau setiap tahun atau setiap dua tahun atau setiap lima atau sepuluh
tahun, baik sehari atau seminggu berturut-turut. Prinsipnya, tradisi tersebut
selalu dirayakan oleh umat dalam jangka waktu tertentu, dan dengan cara (pola)
tertentu. Semua itu termasuk disebut Ied (hari raya), walaupun bukan termasuk
hari raya resmi atau hari raya yang telah disepakati.

Termasuk dalam hal ini adalah yang sering disebut dengan hari besar
nasional, ulang tahun pernikahan (kawin emas, kawin perak di Jawa, misalnya,
pent.), ulang tahun kelahiran, selamatan, perayaan kelas, dan lain-lain hari besar.

Juga, di antaranya yang disebut peringatan tujuh hari, seperti peringatan
tujuh hatinya masjid, atau tujuh hari dari bulan keempat. Jika tidak diubah-ubah
harinya dari waktu ke waktu (ketentuan waktunya tetap), maka hal itu termasuk
hari raya. Aktivitas semacam itu sudah melampaui batas bid’ah, hingga
seandainya ada orang cerdik di suatu masa, maka perkara ini akan dijadikan
sebagai ketetapan syari’at. Dan, setiap yang dianggap tradisi oleh umat, meskipun

38 Abu Dawud hadits no. 1134. Lihat Iqtidla Shirathal Mustaqim juz I hal. 432.
39 Sunanul Kubra oleh Baihaqi juz IX hal. 234. Lihat Kanzul Amal hadits no. 1732.



tidak disyari’atkan, maka perkara tersebut akan dianggap seolah-olah telah
disyari’atkan. Ya, setiap tradisi yang diadakan oleh manusia padahal tidak ada
tuntunan syar’inya, maka tradisi tersebut akan dianggap sebagai suatu ketetapan
syar’i. Entah itu tradisi memperingati hari-hari besar yang diadakan dalam kurun
waktu mingguan, bulanan, tahunan, atau waktu-waktu khusus, atau perayaanperayaan
lainnya.

Semua ini tidak diragukan lagi di kalangan ahli ilmu dan orang-orang yang
mengamalkan diennya (Islam), bahwa perkara semacam itu termasuk perayaanperayaan
terlarang.

XII. Meninggalkan Makan Sahur
Hal ini sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab.
Mereka tidak pernah makan sahur kalau akan berpuasa. Dalam hadits riwayat
Muslim, Nabi


bersabda: “Perbedaan antara shaum kita dengan shaum Ahli Kitab
adalah makan sahur.” 40
Tetapi, sangat disayangkan, kita lihat kaum muslimin di zaman sekarang ini
terjebak dalam larangan ini. Khususnya terhadap orang-orang yang suka tidak
tidur hingga dekat waktu sahur, tetapi kemudian mereka lalu tertidur ketika
mendekati waktu sahur. Dan tidak diragukan lagi, bahwa mereka telah
meninggalkan makan sahur secara sengaja. Ini tidak boleh, bahkan cara itu
merupakan kebiasaan orang-orang kafir, yakni cara orang-orang Yahudi.

Kalau ada yang mengatakan, bahwa hal itu bukan merupakan dosa dan
hanya sekedar tidak melaksanakan sunnah Nabi , maka renungkanlah firman
Allah Ta’ala ini: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut
akan ditimpa cobaan (fitnah) atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63)

XIII. Mengakhirkan Berbuka
Sesungguhnya menyegerakan berbuka merupakan sunnah dan akan
dijadikan pembeda dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Seperti yang
diriwayatkan Abu Dawud dan Hakim, dan dishahihkannya, bahwa Nabi


40 Shahih Muslim hadits no. 1096.



bersabda: “Agama akan selalu tegak selama manusia menyegerakan berbuka,
karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.” 41

Perangai ini banyak menimpa di sebagian manusia, terutama dari kalangan
kaum Rafidlah Syi’ah. Sebab, kalangan ahlu bid’ah Syi’ah biasanya mengakhirkan
waktu shalat maghrib, yakni hingga tampaknya bintang-bintang. Oleh karena itu
dengan sendirinya waktu berbuka puasanya pun diakhirwaktukan.

Demikian juga kadang menimpa di kalangan manusia yang terlalu berhatihati
dan sok pandai dalam dien (Islam). Mereka kadang-kadang tidak percaya pada
para muadzin, bahkan tidak percaya pada tenggelamnya matahari sehingga mereka
mengakhirkan waktu berbuka dengan suatu alasan, bahwa hal itu untuk berjagajaga.
Ini adalah bisikan(was-was) dan godaan dari setan, karena hal tersebut
menyebabkan terjatuh pada larangan yakni mengakhirkan berbuka, padahal
menyegerakan berbuka itulah yang disunnahkan.

Seperti yang telah dinyatakan dalam hadits, bahwa orang-orang Yahudi
mengakhirkan maghrib hingga keluar bintang-bintang, yakni hingga jelas
gemerlapnya cahaya bintang-bintang oleh mata. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan
Hakim dan dishahihkannya, demikian juga Ibnu Majah dan Imam Admad dalam

musnadnya, bahwa Nabi


bersabda: “Umatku akan selalu dalam fitrah selama
tidak mengakhirkan maghrib sampai keluar bintang-bintang.” 42 Dan, ditafsirkan
dalam hadits lain bahwa yang demikian itu menyerupai Yahudi dan Nasrani.43

XIV. Mengasingkan Wanita Haidl
Mengasingkan wanita yang sedang menjalani haidl, baik dalam
makanannya, pergaulannya, tempat duduknya dalam rumah, merupakan perangai
orang-orang Yahudi. Kebiasaan kaum Yahudi jika ada wanita yang sedang haidl
mereka asingkan lantas dipisahkan makanannya dengan tempat duduknya di
dalam rumah.

41 Abu Dawud hadits no. 2353, dan Ibnu Majah hadits no. 1698, Hakim juz I hal. 432, dan dishahihkannya
dengan syarat Muslim.
42 Abu Dawud hadits no. 418, Ibnu Majah hadits no. 689, Ahmad juz II hal. 449, dan Hakim menshahihkannya
dengan syarat Muslim juz I hal. 190, 191.
43 Dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Iqtidla Shirathal Mustaqim juz I hal. 481, Ahmad dalam Musnad-nya
juz IV hal. 943, dan Ibnu Hatim dalam Murraasiil hadits no. 121.



Padahal, Nabi


telah melarang: “Berbuatlah sesukamu kecuali menikah
(yakni bersetubuh).” 44 Hal itu ketika beliau ditanya oleh sebagian muslimin yang
melihat perbuatan orang-orang Yahudi di Madinah.
XV. Larangan Shalat Ketika Matahari Terbit Atau Tenggelam
Adanya larangan tersebut, sebab ketika matahari terbit atau tenggelam
berada di antara dua tanduk setan dan pada waktu itu pula orang-orang kafir

bersujud. Nabi


telah memberi tahu tentang hal itu dalam hadits yang
diriwayatkan Muslim dari ‘Amru ibnu ‘Abasah ra. dalam sebuah hadits yang
panjang. Di antaranya dikatakan: “Shalatlah shubuh dan pendekkanlah hingga
matahari terbit sampai naik. Sesungguhnya ketika matahari terbit, hal demikian ada
dalam keadaan di antara dua tanduk setan dan ketika itu pula orang-orang kafir
bersujud.” 45 Dan, demikian pula ketika tenggelamnya matahari.
XVI. Berdiri Memberi Hormat
Dilarang berdiri kepada seseorang sebagai penghormatan kepadanya,
khususnya jika orang tersebut mempunyai kedudukan atau kekuasaan dan
termasuk dari kalangan pejabat tinggi. Adanya larangan tersebut telah dinyatakan
dalam nash yang banyak.

Termasuk di dalamnya adalah larangan bagi jama’ah shalat untuk berdiri,
padahal imam shalatnya mengimami sambil duduk karena sedang sakit hingga tak

memungkinkannya untuk berdiri. Seperti yang dinyatakan Nabi , bahwa
hendaklah para makmum shalat jama’ah duduk sebagaimana dilakukan imam
shalatnya, sebab dikhawatirkan timbul seperti orang-orang ‘Ajam yang mengambil

sikap berdiri ketika bersama para pembesarnya. Rasulullah


bersabda dalam
hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majah: “Jika imam shalat
dengan duduk maka shalatlah dengan duduk, sedang bila imam shalat dengan
berdiri maka shalatlah dengan berdiri. Dan, janganlah kalian melakukan apa yang
dilakukan orang-orang Persia terhadap para pembesar mereka.” 46 Dan, dalam
riwayat lain dikatakan: “Jangan mengagung-agungkanku sebagaimana orang-orang

44 Shahih Muslim hadits no. 302.
45 Shahih Muslim hadits no. 832.
46 Abu Dawud hadits no. 602, Ibnu Majah hadits no. 1240.



‘Ajam mengagung-agungkan yang satu dengan yang lainnya.” 47 Dan, dalam riwayat
Muslim dikatakan: “Hampir saja kalian melakukan perbuatan sebagaimana
diperbuat oleh orang-orang Persia dan Romawi, mereka berdiri untuk menghormat
raja mereka, sedangkan raja-raja tesebut dalam keadaan duduk.” 48 Sabda ini

dinyatakan ketika para sahabat shalat dengan berdiri sedangkan Nabi


shalat
dengan duduk karena sakit.

XVII. Meratapi Mayat
Menangisi mayat sambil meratapi kemudian menyediakan suatu sarana agar
orang lain melakukannya juga, merupakan perbuatan yang dilakukan oleh orang-

orang jahiliyah. Rasulullah


pernah bersabda dalam suatu hadits muttafaqun
‘alaihi: “Bukan dari golonganku orang-orang yang memukul pipinya, menyobek
kantung bajunya, dan menyeru dengan seruan jahiliyah.” Perangai ini juga banyak
menimpa kalangan muslimin sekarang ini.
XVIII. Bangga dengan Kebangsawanan, Mencela Nasab, dan Minta Hujan
Kepada Bintang-bintang
Semua ini merupakan perbuatan orang-orang jahiliyah yang telah dilarang

Nabi


dengan sabdanya: “Empat perkara yang masih dikerjakan umatku dan
merupakan perbuatan jahiliyah serta mereka tidak mau meninggalkannya yaitu:
berbangga-bangga dengan kebangsawanan, mencela nasab, minta hujan kepada
bintang-bintang, dan menangisi mayat sambil meratapi.” 49
XIX. Fanatik Kesukuan, Fanatik Madzab, dan Fanatik Kebangsaan
Fanatisme kesukuan, fanatisme madzab, dan fanatisme kebangsaan serta
segala bentuk ashabiyah atau fanatisme kepada selain Islam. Tujuannya agar
timbul rasa bangga dan ta’ashub (membanggakan keturunan). Sesungguhnya

semua perbuatan tersebut merupakan perbuatan jahiliyah. Nabi


telah bersabda
dalam hadits shahih: “Bukan golonganku orang-orang yang menyeru kepada
ashabiyah, dan bukan golonganku orang yang berperang karena ashabiyah, bukan
golonganku orang-orang yang mati dalam membela ashabiyah.” (HR. Abu Dawud
dan Muslim dengan makna yang sama.) 50

47 Lihat Abu Dawud hadits no. 5230.
48 Shahih Muslim hadits no. 413.
49 Shahih Muslim hadits no. 935.
50 Lafadz ini oleh Abu Dawud hadits no. 5121, dan oleh Muslim dengan makna yang sama, hadits no. 1848.




Masalah ashabiyah yang telah dilarang Nabi


merupakan masalah paling
besar yang menimpa kaum muslimin dahulu maupun sekarang. Dan, sebagian
ashabiyah yang menimpa kaum muslimin sekarang, yang merupakan fitnah dan
penyebab pecah-belahnya umat adalah fanatisme kesukuan dan fanatisme
kebangsaan yang sempit (Chauvinisme). Sehingga, menjadikan kaum muslimin
bergolong-golongan dan mereka terpecah-belah menjadi kelompok-kelompok.
Semoga pembicaraan ini dapat menyadarkan kita betapa besarnya pengaruh
kesukuan ini bagi mewabahnya ashabiyah jahiliyah di kalangan kaum muslimin,
dan mengakibatkan bahu-membahunya orang-orang dzalim demi kesukuan atau
qaumiyah.51
Sedangkan, Nabi


telah memperingatkan hal ini dengan sabdanya:
“Barangsiapa yang menolong kaumnya dalam masalah yang tidak benar, maka dia
seperti unta yang memakai mantel kemudian diambil karena kesalahannya.” 52

XX. Shaum Hanya di Hari Kesepuluh Pada Bulan Muharram
Mengistimewakan hanya di hari kesepuluh di Bulan Muharam, yakni
dengan shaum asyura saja merupaka perbuatan terlarang, sebab orang-orang
Yahudi mengerjakan yang demikian itu. Seperti yang diriwayatkan Imam Ahmad

dalam Musnad beliau, bahwa Nabi


bersabda: “Shaumlah di hari ‘Asyura’ dan
selisihilah dalam hal ini orang-orang Yahudi, (yakni dengan) bershaum satu hari
sebelumnya atau satu hari sesudahnya.” 53
XXI. Menyambung Rambut Bagi Wanita
Yang dimaksud menyambung rambut di sini adalah menyambung atau
menambah rambut dengan rambut palsu yang telah Allah ciptakan atas wanita itu
(walaupun rambut asli, pent), sebagaimana dilakukan orang-orang Yahudi.

Jika wanita mengubah rambut aslinya (seperti menyambung dengan rambut
palsu, ed.), maka sesungguhnya dia tidak/bukan bentuk asli, dan telah melanggar
batas ketentuan-ketentuan yang dipahami para ahli ilmu (para ulama, ed.). Seperti
yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari hadits Muawiyah ra. yang pernah
berkata ketika mengisahkan rambut yang disambung: “Sesungguhnya yang

51 Yang dimaksud di sini adalah invasi Irak atas Kuwait di bawah bendera jahiliyah, dan tidak ada tujuan lain
kecuali mengokohkan fanatisme golongan, kesukuan dan para pengikut hawa nafsu yang selalu berupaya
memalingkan kepada ashabiyah.
52 Musnad Ahmad juz I hal. 241. Lihat Shahih Muslim hadits no. 1133.
53 Musnad Ahmad juz I hal. 241. Lihat Shahih Muslim hadits no. 1133.



menyebabkan Bani Israil binasa adalah karena mereka mengambil ini (rambut
palsu) untuk wanita mereka.” 54 “Aku tidak melihat seorang pun mengerjakannya
kecuali orang-orang Yahudi.” 55

XXII. Hati yang Keras
Kerasnya hati dan ketidakkhusyu’an terhadap ayat-ayat Allah atau dalam
berdzikir kepada-Nya merupakan perangai orang-orang Yahudi yang dilarang Allah
dalam firman-Nya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman
untuk tunduk hati-hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah
turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang
telah turun Al-Kitab kepada mereka kemudian berlalulah masa yang panjang atas
mereka, lalu hati-hati mereka menjadi keras.” (QS. Al-Hadid: 16). Yang dimaksud
orang-orang yang diberi Al-Kitab adalah Yahudi dan Nasrani.

XXIII. Rahbaniyyah dan Tasyabbuh Dalam Agama
Inilah perangai terburuk orang-orang Nasrani yang telah mencapai tingkatan
sebagai penyampai ajaran agamanya (pastur) terhadap ketentuan yang tidak
disyari’atkan Allah. Baik dalam ibadah dari urusan dunia, menghilangkan usaha
dalam pencarian rizki, meniadakan jihad, dan meninggalkan atau melarang
bepergian, mengharamkan yang mudah atau meninggalkannya dengan suatu
sangkaan bahwa hal itu merupakan tuntunan agamanya.56 Atau, berlaku sok
pandai dalam agama sehingga menyimpang dari manhaj yang benar, yakni dienul
Islam. Adapun rahbaniyyah (kependetaan) merupakan perbuatan orang Nasrani.

Allah telah melarang yang demikian itu, begitu pula Rasulullah


dengan
sabdanya: “Jangan berlebihan terhadap diri kalian, maka Allah akan
memperlakukan secara berlebihan pula terhadap kalian. Sesungguhnya telah ada
suatu kaum yang terlampau berlebihan terhadap diri mereka, maka Allah
memperlakukan secara berlebihan pula terhadap mereka. Maka, itulah sisa-sisa
54 Shahih Muslim hadits no. 2742.
55 Lihat Iqtidla Shirathal Mustaqim juz I hal. 253.
56 Kalau kita melihat gambaran dalam sistem kerahiban, mereka biasanya meninggalkan hal-hal yang mubah
dengan tujuan untuk mengamalkan agamanya, seperti tidak boleh memakai sepatu, tidak boleh mengendarai
mobil, tidak mau beristri, atau tidak mau menggunakan prasarana dan alat-alat yang dibolehkan. Wallahu a’lam.


 38 mereka di pertapaan dan kehidupan rahbaniyyah yang mereka ada-adakan,
padahal tidak kami perintahkan.” 57

57 Abu Dawud hadits no. 4904.



BAB IX
PENUTUP


Masalah tasyabbuh ini merupakan topik yang sangat penting dan harus
dimengerti kaum muslimin. Karena, muslimin di zaman sekarang ini sangat
banyak yang terjebak dalam perangkat tasyabbuh yang sangat membahayakan
terhadap dien Islam. Bahkan, ada sebagian di antara mereka yang derajat
ketasyabbuhannya berada pada tingkat kufur dan ada pula yang sesat (dlalal).
Bahkan, ada juga yang jatuh kepada tingkatan bid’ah. Walaupun penyakit
tasyabbuh ini telah pula menimpa orang-orang zaman dahulu, akan tetapi tidak
sampai separah sekarang. Kita dapat menemukan bahwa kaum muslimin di zaman
kini mengikuti golongan selain mereka dalam sebagian besar perkara, kecuali
orang-orang yang benar-benar dijaga Allah ‘Azza wa Jalla.

Sayangnya, kaum muslimin sekarang ini telah mengikuti jejak langkah
orang-orang kafir dalam segala jenis perkara, tidak saja mengikuti dalam satu segi
dari perkara-perkara ibadah, adat-istiadat, atau yang lainnya, tetapi mengikutinya
secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan, baik dalam aqidah, syari’at,
akhlak, pola tingkah laku, pola berpikir, metoda pendidikan, ekonomi, maupun
politik. Contoh: seperti turut memperlakukan sistem perundang-undangan buatan
manusia (hukum positif) dan meninggalkan dienullah (hukum Islam). Akibatnya,
kaum muslimin baik secara berkelompok maupun dalam lingkup negara beserta
organisasi atau negara-negara kafir, turut mendukung diberlakukannya hukum
positif tersebut. Hingga, porak-porandalah kaum muslimin dan kemudian mereka
menanggalkan dien Islam dalam banyak masalah. Sebagian kecil di antaranya,
dalam aspek akhlak, tingkah laku dan petunjuk lahiriah lainnya. Bahkan, ada
beberapa negeri muslim yang katanya berpegang kepada As-Sunnah ternyata
terjadi sya’adzah (penyelewengan dan perbuatan-perbuatan tercela) dengan
mencontoh pada akhlak dan budi pekerti orang-orang kafir. Hal ini dapat
dirasakan di kalangan masyarakat.

Kami di negeri ini, yakni Kerajaan Saudi Arabia, alhamdulillah, sebagian
besar muslimin masih tetap memegang Islam dan masih tetap menjalankan



akhlak, kebudayaan, hukum, dan perundang-undangan Islam. Ini merupakan
nikmat dari Allah yang harus kita jaga selalu.

Akhirnya, kami berusaha mewasiatkan pada diri kami sendiri dan kepada
saudara-saudaraku muslimin agar selalu bertakwa kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan selalu memberi nasihat kepada kaum muslimin lainnya. Serta,
berusaha untuk mengeluarkan mereka dari keadaan yang menyedihkan ini dengan
tetap menjaga segala sesuatu yang telah ada pada kita di negeri ini, alhamdulillah.
Baik dalam hal aqidah tauhid, sedikitnya bid’ah, menegakkan amar ma’ruf dan
nahi mungkar, mengamlkan dien sesuai dengan tuntunannya, berhukum pada
syari’at, dan lain-lain perkara As-Sunnah Azh-Zhahiriyah. Dan, merupakan
kewajiban kita untuk membendung segala hal yang membawa kepada kubangan
dan jebakan-jebakan orang-orang kafir serta amalan-amalan mereka yang
menjadikan kita sebagai sasaran atau jajahannya.

Demikianlah dan kami memohon kepada Allah semoga kita tetap
dihidupkan dalam keadaan muslim dan dimatikan-Nya dalam keislaman.
Kemudian kita dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.
Semoga kita diberi petunjuk ke jalan yang lurus serta menjauhkan kita dari jalan
yang dimurkai-Nya dan dari jalan yang sesat.

Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad , kepada keluarga
beliau, dan seluruh sahabat-sahabat beliau.

Ditulis oleh:
Nashir Ibnu Abdul Karim al-Ali Al-Aql
Tanggal 11 - 8 – 1411 hijriyah.